Aceh Tamiang — wartaonelampung.com, Kepedulian terhadap pemulihan pascabencana kembali ditunjukkan Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Melalui kolaborasi bersama Forum Rescue Relawan Lampung, ITERA menurunkan tim Teknik Geofisika untuk membantu pemetaan sumber air bersih bagi masyarakat terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang.
Kegiatan kemanusiaan yang berlangsung sejak 16 Januari 2026 ini difokuskan pada penentuan titik-titik potensial pembangunan sumur bor untuk fasilitas umum. Pascabanjir, banyak sumber air warga mengalami kerusakan dan tercemar endapan lumpur, sehingga tidak lagi layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Tim Teknik Geofisika ITERA dipimpin oleh dosen Teknik Geofisika, Rizka, S.T., M.T., bersama dua mahasiswa tingkat akhir, Jhon Erik Natanael Hutabarat dan Yarra Rizky Zebua.
Mereka terjun langsung ke lapangan sebagai bagian dari program kemanusiaan “Lampung untuk Sumatera Bangkit” yang mewakili Pemerintah Provinsi Lampung.Dalam pelaksanaannya, tim menggunakan teknologi ADMT, sebuah alat geofisika untuk mendeteksi dan menentukan titik koordinat sumber air tanah yang berpotensi. Metode ini dinilai efektif untuk meminimalkan risiko kegagalan pengeboran sumur.

Pengukuran dilakukan di sejumlah wilayah, meliputi Desa Purwodadi Kecamatan Sungai Liput, kawasan Kota Jawa di Kota Langsa, serta beberapa kecamatan lainnya seperti Bandar Pusaka, Bandar Khalifah, Tamiang Hulu, hingga Tanjung Mancang. Selama tujuh hari pertama, tim berhasil merekomendasikan lebih dari 50 titik koordinat yang dinilai layak untuk pembangunan sumur bor.
Ketua Forum Rescue Relawan Lampung, Aris Gibrant, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada ITERA atas dukungan keilmuan dan keterlibatan langsung di lapangan.
“Kontribusi tim ITERA sangat membantu masyarakat dan relawan. Dengan pemetaan yang akurat, pembangunan sumur bor menjadi lebih tepat sasaran, efisien waktu, dan menghemat biaya,” ungkap Aris.
Ia juga mengapresiasi dukungan dari Pemerintah Provinsi Lampung, Pramuka Kwarda Lampung, para relawan, organisasi kemanusiaan, serta para donatur yang telah berkontribusi dalam kegiatan tersebut.
Menurut Aris, selama ini banyak upaya pengeboran sumur yang gagal akibat tidak adanya kajian teknis yang memadai. Kehadiran tim ahli dari ITERA menjadi solusi penting dalam menjawab kebutuhan mendesak air bersih di wilayah terdampak bencana.
“Harapannya, dengan pendampingan teknis ini, masyarakat bisa segera mendapatkan akses air bersih yang aman dan berkelanjutan,” tambahnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu mempercepat proses pemulihan sanitasi dan ketersediaan air bersih bagi warga Aceh Tamiang dan sekitarnya, sekaligus menjadi contoh sinergi nyata antara perguruan tinggi dan relawan kemanusiaan dalam penanganan pascabencana. (Red)















