Bandar Lampung — wartaonelampung.com, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar media gathering membahas perkembangan pasar modal serta penguatan literasi investasi di Provinsi Lampung. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Grand Mercure Lampung lantai 37, Selasa (19/5/2026).
Dalam kegiatan itu, OJK memaparkan perkembangan pasar modal nasional maupun regional Lampung yang menunjukkan tren pertumbuhan positif, terutama dari kalangan generasi muda. Hingga April 2026, jumlah investor pasar modal nasional tercatat mendekati 16 juta investor atau tumbuh sekitar 32,95 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didominasi investor reksa dana yang menyumbang lebih dari 90 persen dari total investor baru. Sementara itu, sekitar 54 persen investor pasar modal berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.
Perwakilan OJK menilai tingginya minat generasi muda terhadap investasi menjadi sinyal positif bagi masa depan pasar modal Indonesia. Investor muda dinilai mulai memahami pentingnya investasi sejak dini melalui instrumen yang relatif aman dan dikelola secara profesional.
“Investor muda saat ini mulai berani mencoba produk investasi seperti reksa dana sebagai sarana belajar investasi yang aman dan terukur,” ujar salah satu narasumber.
Pada kesempatan yang sama, OJK dan BEI juga menggelar sosialisasi pasar modal di Universitas Malahayati yang diikuti sekitar 1.500 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 mahasiswa menyatakan komitmen membuka rekening investasi baru.
Meski jumlah investor terus meningkat, OJK mengungkapkan investor aktif yang rutin bertransaksi masih relatif rendah. Karena itu, edukasi dan pendampingan kepada investor baru akan terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya membuka rekening investasi, tetapi juga memahami pentingnya investasi jangka panjang dan pengelolaan risiko.
Dalam forum tersebut, OJK turut memaparkan delapan rencana aksi percepatan reformasi pasar modal Indonesia yang difokuskan pada empat aspek utama, yakni peningkatan likuiditas pasar, penguatan transparansi, tata kelola perusahaan, serta perlindungan investor.
Salah satu kebijakan terbaru yakni peningkatan batas minimum saham beredar atau free float emiten menjadi 15 persen secara bertahap menuju standar global.
Selain itu, penguatan transparansi kepemilikan saham dan pengawasan transaksi juga akan diperketat guna meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor domestik maupun asing.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BEI Lampung, Hendy Prayogi, menyampaikan bahwa perkembangan pasar modal di Provinsi Lampung juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hingga April 2026, jumlah investor pasar modal di Lampung mencapai 673.737 investor atau tumbuh sekitar 45,31 persen dibandingkan periode sebelumnya.
“Lampung saat ini menjadi provinsi dengan jumlah investor pasar modal terbesar di Sumatera dan berada di peringkat sembilan secara nasional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, investor di Lampung masih didominasi kelompok usia 18 hingga 25 tahun yang sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa dan generasi muda yang mulai mengenal investasi sejak dini.
BEI Lampung bersama OJK juga terus memperluas edukasi pasar modal melalui Galeri Investasi di perguruan tinggi, pemerintah daerah hingga desa. Saat ini terdapat sekitar 15 Galeri Investasi BEI di perguruan tinggi di Lampung, serta sejumlah galeri investasi desa yang menjadi sarana edukasi masyarakat mengenai investasi legal dan aman.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Pasar Modal Indonesia ke-48 yang diperingati setiap 10 Agustus. Berbagai program edukasi, sosialisasi hingga aksi sosial akan terus digelar untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Dalam sesi penutup, tiga narasumber yakni Bayu, Hendi, dan Mauldi berharap perkembangan pasar modal Indonesia, khususnya di Lampung, dapat terus tumbuh lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang. (Rin)















