Bandar Lampung – wartaonelampung.com, Ketersediaan gabah di Kabupaten Lampung Selatan dan Provinsi Lampung mulai menghadapi tantangan.Sejumlah pengepul gabah mengaku kesulitan menyalurkan hasil pembelian mereka ke pabrik penggilingan padi di wilayah Lampung.
Kondisi tersebut membuat sebagian gabah mulai dijual ke luar daerah. Sejumlah pengepul bahkan memilih mengirim gabah ke Serang, Banten, hingga Bandung, Jawa Barat.
Situasi ini menjadi perhatian karena jika berlangsung dalam waktu lama, arus keluarnya gabah dari Lampung dikhawatirkan semakin besar dan pada akhirnya dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku beras di daerah.
Salah satu titik pengumpulan gabah yang mengalami kondisi tersebut berada di Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan.
Berdasarkan penelusuran dan keterangan sejumlah sumber pada Sabtu, (29/8 2026), para pengepul menyampaikan bahwa persoalan utama yang mereka hadapi adalah sulitnya menjual gabah kepada pengusaha penggilingan padi. Sebagian pabrik penggilingan disebut belum bersedia menampung atau menggiling gabah yang ditawarkan.
Salah seorang warga Kampung Cinta Mulya, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, berinisial Kus, mengatakan para pengepul sebenarnya tidak menginginkan gabah yang telah mereka kumpulkan harus dijual ke luar Lampung.
Menurutnya, pengepul pada prinsipnya siap memasok gabah untuk kebutuhan penggilingan di Lampung selama terdapat kepastian penyerapan dan harga yang dapat disepakati bersama.
Hal senada disampaikan Sen, warga Kampung Sido Waluyo, Kecamatan Sidomulyo. Ia berharap persoalan antara pengepul dan pengusaha penggilingan dapat segera dicarikan jalan keluar agar gabah yang dihasilkan petani Lampung tetap terserap di dalam daerah.
Para pengepul juga menyatakan kesediaannya mengikuti harga yang ditetapkan pengusaha penggilingan. Namun, mereka berharap harga yang diberikan tidak terlalu rendah dan memiliki selisih yang terlalu jauh dibandingkan harga di luar Lampung.
Persoalan ini bukan sekadar mengenai harga, tetapi menyangkut rantai pasok gabah di Lampung. Ketika harga dan penyerapan tidak memiliki kepastian, pengepul tentu akan mencari pasar yang mampu memberikan nilai lebih baik. Jika kondisi tersebut terus terjadi, semakin banyak gabah berpotensi keluar dari Lampung.
Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu mengambil langkah cepat dengan mempertemukan para pengepul dan pengusaha penggilingan padi untuk mencari titik temu mengenai harga serta mekanisme penyerapan gabah.
Selain itu, kesepakatan harga yang telah dicapai perlu dikawal agar tetap berjalan dan memberikan kepastian bagi seluruh pihak, mulai dari petani, pengepul hingga pengusaha penggilingan.
Koordinasi lintas sektor juga diperlukan untuk memantau pergerakan distribusi gabah. Langkah tersebut bukan dimaksudkan untuk menghambat perdagangan, tetapi untuk memastikan ketersediaan gabah sebagai bahan baku pangan di Lampung tetap terjaga.
Pemerintah juga perlu melihat persoalan ini dari sisi hulu hingga hilir. Jangan sampai petani tetap menghasilkan gabah, tetapi ketika masuk ke tingkat pengepul justru terjadi persoalan penyerapan akibat tidak adanya kepastian harga dan kapasitas penggilingan.
Jika tidak segera dicarikan solusi, bukan tidak mungkin Lampung yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi justru menghadapi persoalan ketersediaan gabah untuk kebutuhan penggilingan di daerah sendiri.
Kini dibutuhkan kehadiran pemerintah untuk mempertemukan kepentingan petani, pengepul dan pengusaha penggilingan agar rantai pasok gabah tetap sehat dan ketersediaan pangan di Lampung dapat terus terjaga. (Rin)















